CONTOH PUISI KEHIDUPAN

 

Apa kabar, teman-teman pembaca? Seringkali, saat dunia terasa terlalu bising dan cepat, kita butuh jeda—sebuah tempat sunyi untuk mendengarkan kembali suara hati yang sesungguhnya. Dan di situlah puisi kehidupan hadir. Ia adalah sahabat setia yang mampu merangkum tawa paling riang dan air mata paling pilu dalam beberapa larik saja. Di blog ini, kita akan menjadikan puisi sebagai medium untuk berbagi, merayakan momen-momen kecil, dan menemukan bahwa di balik kisah kita yang unik, ada benang merah kemanusiaan yang terjalin erat. Mari kita mulai perjalanan puitis ini bersama!"

Lihatlah sekeliling Anda. Perhatikan embun yang menetes di jendela, senja yang melukis langit, atau bahkan kerutan di wajah orang yang Anda cintai. Bukankah semua itu adalah puisi? Kehidupan adalah masterpice yang ditulis tanpa henti, dan tugas kita adalah membacanya, meresapinya, dan merayakannya. Blog ini didedikasikan untuk 'membongkar' dan 'menikmati' puisi kehidupan yang sering terabaikan; dari keindahan abadi hingga konflik batin yang paling jujur. Siapkan hati Anda, karena di setiap postingan, kita akan mencari rima yang menyatukan realitas dan imajinasi."

Setiap hari adalah bait, setiap pengalaman adalah diksi. Dalam hiruk pikuk perjalanan yang kita sebut kehidupan, seringkali kita berhenti sejenak, mencari cerminan diri dalam untaian kata. Puisi kehidupan, lebih dari sekadar rangkaian kalimat indah, adalah jendela menuju kedalaman jiwa, sebuah cara untuk memahami kontradiksi, keindahan, dan kepedihan yang menyertai eksistensi kita. Selamat datang di ruang perenungan ini, tempat kita akan bersama-sama menyusuri jejak makna, menemukan irama tersembunyi dalam denyut nadi harian, dan merayakan hakikat diri melalui kekuatan kata-kata.


Bayangan Suram Tak Bertepi

Karya : Sudarmin Harun

Terjal jalan tak berujung,

Langkah kaki terasa lumpuh, tak mampu berlari.

 Tiada hari tanpa mendung,

Mentari seakan enggan menyinari.

Setiap pintu yang kucoba buka,

Selalu menyambut dengan badai dan duri.

Nasib baik menjauh, seakan tak suka,

Bersembunyi di balik tirai sunyi.

Bahu terasa berat memikul beban,

Cerita hidup penuh liku dan luka.

Kawan sejati hanyalah kesunyian,

Yang setia menemani di setiap nestapa.

Mengapa takdir seolah tak adil?

 Mengapa untung selalu berpaling muka?

 Setiap harapan yang kubangun, kecil,

Runtuh diterjang gelombang masalah yang tiada jeda.

Di mana letak damai yang kucari?

Di mana ujung dari kepedihan ini?

Hidupku, bagai perahu di tengah malam hari,

Terdampar abadi, tanpa dermaga untuk berlabuh lagi.

 

Post a Comment

0 Comments